Tuesday, December 29, 2009

the only place to talk

maaf yaa baru posting lagii hehe belum kepikiran mau posting tentang apa soalnya :))

berita ini gak terlalu panas, gak terlalu dingin juga (basi maksudnya) tapi menyita perhatian publik.
semua masyarakat Indonesia (sebagian besar tentunya) pasti kenal dengan sosok cantik Luna Maya. seorang artis, model, dan juga pengusaha yang bisa dibilang cukup sukses. sosoknya sedang hangat dibicarakan karena update statusnya di account twitter beberapa waktu lalu. status itu berisi tentang rasa kesalnya terhadap infotainment. dan kini masalah tersebut sedang dibawa ke polisi untuk diselidiki. jika terbukti bersalah, luna maya akan menghadapi tuntutan  yang sama dengan ibu Prita yang baru hari ini dinyatakan BEBAS :).

hemm...sepertinya kita sudah gak punya lagi ruang buat berbicara ya, padahal negara kita negara bebas. termasuk bebas berbicara dan mengeluarkan pendapat. pendapat itu sendiri kan ada yang bagus..ada yang jelek. yang bagus bisa jadi terlallu gombaaal..yang jelek bisa terdengar kasar. itulah pendapat.

kalau kita membicarakan pendapat kita di dunia nyata, kadang-kadang suka hemm sulit diungkapkan dengan kata-kata. seringkali lebih nyaman kalau memberikan pendapat maupun bercerita lewat dunia maya. bisa jadi dengan identitas asli maupun identitas palsu agak gak ketahuan orang lain. di Internet pun banyak banget tempat atau sarana menyampaikan unek-unek kita. mulai dari facebook, blogger, tumblr, twitter, sampai lewat e-mail yang lebih pribadi. tapi kok sekarang gak dunia nyata, dunia maya..semuanya jadi gak nyaman lagi buat menyampaikan perasaan?! huff

let's see...luna maya curhat singkat dengan 140 karakter langsung jadi masalah yang besar banget. padahal kalau buat gw sendiri, hal itu biasa aja. yaa mungkin karena artis jadi hal tersebut jadi sensasi besar. wajar buat seorang artis. tapi, apakah wajar kalau masalah tersebut sampai ke pak polisi? sedangkan pak polisi masih punya banyak kerjaan lain? <------ ngutip salah satu nara sumber pada salah satu talkshow di salah satu stasiun tv swasta.

kalau di twitter, jika merasa kesal kan bisa saling mention (@) atau me retweet (RT). buat gw sih, kalau masalah itu dimulai di twitter, coba selesaikan di twitter dengan baik-baik juga. atau bisa juga langsung ketemuan. emang siih isi status luna maya tersebut emang terdengar kasar..well emang kasar. tapi gw yakin dia bener-bener lagi depresi atau kelelahan makannya dia nulis seperti itu.

di satu sisi, gw sangat menyayangkan sika luna maya yang menghapus account twitternya. harusnya dia bisa bertanggung jawab atas status yang ia tulis tersebut.

enough soal contoh. sekarang back to the topic. lalu, dimana lagi kita bisa mencurahkan perasaan? sahabar? kadang kala susah banget mencari orang yang benar-benar bisa menerima curhatan kita. bisa jadi orang itu sedang PMS, atau memang bukan pendengar yang baik. kadang juga kita gak bisa mengungkapkan kata-kata secara lisan, cuma bisa lewat tulisan. yaa satu-satunya tempat terakhir untuk bercerita yaa di dunia maya. tapi kalau dunia maya kita malah jadi tersiksa? dimana lagi kita bicara? mungkinkah suatu saat kita tidak lagi bisa berpendapat dan hanya bisa meng-iya kan?

bagaimana pendapat anda?

Monday, September 28, 2009

they call them: 'ALAY'

hemm kalau di kalangan remaja, terutama yang ada di wilayah Jakarta dan sekitarnya gak asing pasti kata ALAY. alay disini menggambarkan seseorang yang hemm tidak sesuai dengan pandangan mereka...orang-orang yg menggunakan sticky caps (sebutan buat huruf besar kecil pada forum yg saya ikuti), bahasa yang aneh dalam menulis, rambut ala kangen band, dan hemm gaya foto yang aneh...foto dari atas dan sebagainya. padahal kalau diingat-ingat..dulu kita pernah mengalami jaman 'alay'

dari saya sendiri..saya pernah iseng menggunakan sticky caps...itu juga karena mengikuti teman. tapi gak bertahan lama soalnya pusing bacanya (that's why i love forum!). soal gaya foto..karena di zaman sd saya gak di beri kebebasan untuk punya hp berkamere..saya jarang foto. hemm kalau rambut? dari kecil saya lebih suka dipotong model pixie..jadi terlihat biasa aja. kalau soal menulis hemm...cuma bentuk-bentuk huruf saya modif dan jadinya...aneh. katanya siih alay tuh suka pake tuch..quw..dsb...hemm *mengingat ingat* kyknya hampir gak pernah deh..saya tipe orang yang gak suka huruf q dalam bahasa sehari-hari (kecuali sekarang buat bercanda). huruf Q hanya saya gunakan pada kata yang harus menggunakan huruf Q. paling yaaa kuw..atau sebagainya lah.

oke keluar dari diri saya ke beberapa teman saya. saya ingat betul dulu zaman sd..sticky caps tuh hal yang hemm gaul di saat itu. dan yang menggunakannya dianggap normal. tidak ada yang salah dengan penggunaan huruf besar kecil dan besar lagi dan kecil. semua tampak biasa saja.

soal gaya berfoto, hey! jujur! kalian pasti pernah walaupun sekali seperti itu! gak mungkin gak (terutama buat yang sekarang sering memberi julukan alay) foto dari atas terus pipi digembungkan..dimasa itu semua terlihat lucu. terus, kenapa sekarang malah orang yang begitu di katakan ALAY.

jujur awalnya saya mengira alay itu julukan buat orang yang mirip salah satu tukang ojek sekolah (namanya alay!). tapi lama kelamaan saya mengerti maksudnya.

awalnya pun saya sempat memberi julukan itu tapi hanya untuk bercandaan dan memberi pengertian ke teman terdekat bahwa orang itu mengikuti tren kita jaman dulu.

lama kelamaan saya baru ngeh..julukan alay itu malah membuat jarak...kalau terus dibiarkan..akan ada dua tingkat sosial baru..alay dan gak alay. alay buat orang-orang yang pake tren lama dan gak alay buat orang yg ikut tren terbaru..HALOOO!!!!

sadar dong semua..gak sepatutnya memberi julukan alay. dulu kita pernah gitu kok..berarti sebetulnya kita juga alay! dan kitalah yang menyebabkan mereka alay.

come on..hilangkan kebiasaan itu. emang terlihat aneh..tapi mulai dari diri sendiri..kita ciptakan persatuan bukan malah membeda bedakan. mereka hanya telin-->telat informasi--> soal gaya hidup yang pernah kita jalani dulu.. ayolaaah kita sama-sama manusia..dari tanah...ciptaan tuhan..makan nasi..dan tinggal di bumi yang sama..

start from your self

Tuesday, September 22, 2009

Tempat Sampah Bersama

hi guys! baru aja kemaren saya menikmati dinginnya PUNCAK wihiii...sejuk rek! sudah lama saya gak ke sana. terakhir kali pas kelas 6 sd hemm 4 tahun yang lalu lah kurang lebih. dan itu gak mencapai pucak pass. hanya di bagian bawah.

setelah kemarin saya menikmati hijaunya pepohonan. ada satu hal yang membuat saya dan ibu saya hemm kaget. betapa banyak sampah yang bertebaran di sana. terkesan seperti puncak itu penuh dengan sampah bersama. hal ini mungkin dikarenakan dibentuknya sistem buka tutup yang menyebabkan bagian yang mendapat giliran 'menikmati' jalan puncak dalam beberapa jam itu terlalu menikmati sehingga dengan santai mereka membuakng sampah makanan mereka ke jalanan. beruntung mereka membuangnya gak di tengah jalan tapi di pinggir jalan. tapi..tetap saja merusak pemandangan.

hal ini tidak hanya terjadi di puncak saja. masih banyak wilayah yang mengalami hal serupa. gak usah jauh-jauh.. coba kita lihat jakarta. berantakan sekali...sampah bertebaran. untung ada super hero kita para tukang sampah. pekerjaan mereka membuat kita senang. wilayah jadi bersih dari sampah.

sedikit keluar dari topik sampah dimana mana. saya mau mengulik sedikit masalah kehidupan para super hero kita..di mata kita bisa saja para pemungut sampah itu orang-orang yang kotor, menjijikkan.. terkadang malah karena kita gak peduli..kita cuek aja sama keadaan mereka dan gak menghargai pekerjaan mereka. well semuanya terlihat bahwa mereka tuh tipe-tipe manusia yang suka main di lingkungan kotor. bersahabat dengan bau gak sedap dan para lalat. tapi sadar gak kita, tanpa mereka negara kita bisa penuh sampah. hidung bisa saja kebal dengan bau itu karena sampah mainan kita sehari-hari. kita tuh harus berterima kasih sama mereka. dan seharunya yaa yang kita idolakan tuh bukan superman, batman or another comical superhero. tapi sama tukang sampah, pemadam kebakaran, dan sebagainya. mereka itu pahlawan sebenarnya.

back to topic. gak ada lagi yang bisa saya tulis. yang jelas diawali dari diri sendiri, biasakan buang sampah di tempatnya (BUKAN DI TENGAH JALAN!). atau kalau gak ada tempat sampah yaa sementara simpan di tas aja atau kantung plastik. biasakan dari sekarang dan dari diri sendiri :)

Saturday, August 29, 2009

Indonesia vs Malaysia

hi all! ini pendapat saya ttg Malaysia dan Indonesia yang lagi hangat dibicarakan. pada posting sebelumnya oleh dhyta..ia telah memberi pendapatnya..sekarang ini pendapat saya :)

Akhir akhir ini lagi rusuh banget membicarakan Malaysia yang dianggap mengambil kekayaan Indonesia. dari yang namanya Tari Pendet, Bunga Bangkai, Reog, Batik dan sebagainya sampai muncul kabar kalau Malaysia mem-plesetkan lagu Indonesia Raya. semua itu membuat warga Indonesia kesal dan berulang kali melontarkan ejekan pada Malaysia. hemm sebetulnya pantas gak sih kita marah?

kalau boleh jujur yaa jawabannya pantas gak pantas.

kenapa pantas? pasti pemikiran kita bakal bicara seperti ini: 'Tari Pendet itu dan kebudayaan lain yang terpampang di iklan pariwisata milik Malaysia itu kan punyanya Indonesia..gak seharusnya mereka memasang kebudayaan kita di iklan mereka!! sepertinya mereka hobi nyari ribut sama kita bangsa Indonesia. selain 'pencurian kebudayaan' sering kali TKI disiksa dan masih banyak kasus antara Indonesia sama Malaysia.. ya jelas lah kita marah! orang itu puna negara kita kok!' jujur deh..pasti kepikiran kan?

lalu, kenapa gak pantas? sekarang kita pikir dengan tenang. kita juga gak seharusnya marah sama Malaysia. bisa jadi ini salah satu cara yang disengaja buat mengadu domba kedua negara yang letaknya bertetangga ini. siapa tau maksud Malaysia memasang iklan tersebut buat menjelaskan bahwa di Malaysia juga bisa kok melihat tari pendet, bunga rafless (Fyi, ternyata ditemukan banyak bunga bangkai yang hidup di hutan pulau Kalimantan), dan batik. maksdunya adalah, di Malaysia para tamu bisa menikmati juga kebudayaan dari berbagai negara di Asia termasuk Indonesia.

dari informasi yang gw tau..Reog Ponorogo bisa 'sampai' di Malaysia karena orang Indonesia yang tinggal di Indonesia lah yang melestarikan Reog Ponorogo. artinya gak sepenuhnya Malaysia yang salah. dan pemerintah Indonesia pun belum mendaftarkan kebudayaan yang ada di Indonesia ke lembaga yang berkaitan. berarti..wajar aja Malaysia bisa mengklaim bahwa Reog punya negara mereka. selain itu Pemerintah Indonesia juga masih kurang dalam menjalin hubungan dengan pelestari kebudayaan indonesia. yaa wajar karena merasa kurang di perhatikan yaa mereka pada ngacir ke negeri Tetangga.

di satu sisi..Malaysia juga seharusnya menghargai apa yang telah selama ini mengakar di Indonesia. Malaysia pasti tahu kalau Tari Pendet, Batik, dan sebagainya telah ada di Indonesia sejak zaman dahulu kala. setidaknya mereka menanyakan Izin atas penggunaan kebudayaan Indonesia tersebut. kalau tidak di izinkan yaa jangan iseng buat menggunakan.

Malaysia pun seharusnya menjelaskan alasan penggunaan kebudayaan Indonesia dalam iklan mereka.

jadi sebetulnya dalam masalah ini kedua negara sama-sama melakukan kesalahan. Malaysia tidak izin dan tidak memberi penjelasan. Indonesia pun tidak melestarikan apa yang dimiliki.

so..tidak sepantasnya kita mengejek Malaysia. hubungan antar negara itu harus di jaga. seperti manusia..sebuah negara pun tidak bisa hidup tanpa negara lain.

marilah kita jaga kebudayaan kita dan melestarikannya. serta terus menjaga hubungan baik antar negara :))

posted by:naa!
ps; thanks for my dad for the info

Sunday, August 23, 2009

Klaim Tari Pendet

MENANGIS! Ibu Pertiwi benar-benar merintih kesakitan dan menangis. merintih dan menangis karena bagian dari tubuhnya diambil secara paksa dari tubuhnya. Menangis karena anak-anaknya tak lagi bersatu padu dan menjaga dirinya agar tetap utuh seperti dahulu kala. Menangis karena tak banyak orang yang masih mau untuk menyebut dirinya di dalam doa-doa mereka, di dalam setiap hembusan napas mereka, di dalam hati mereka. Bahkan untuk menyebutnya sekali saja, tak banyak orang yang peduli ataupun sudi untuk melakukannya. Lalu mau bagaimana bangsa ini? Mau bagaimana? Mau remang? Mau redup? Atau mau mati? Atau mau diobral kepada negeri-negeri besar lainnya? Mau bagaimana hai kalian para priyai-priyai bangsa!

Mungkin sepenggal sajak di atas tidaklah cukup untuk menggambarkan kekecewaan kita semua, segenap bangsa Indonesia pada hari ulang tahun kemerdekaan bangsa kita yang ke 64 tahun ini. Karena pada bulan Agustus yang seharusnya penuh dengan suka cita dan kebahagiaan menyambut ultah bangsa yang sudah menginjak usia yang bukanlah seumur jagung lagi, kita, para generasi penerus bangsa lagi-lagi harus menerima klaim Negara tetangga atas salah satu tarian asli Indonesia yang berasal dari wilayah Bali, tari Pendet.
Sore itu, tanggal 23 Agustus 2009, hari ke dua umat Islam menjalankan ibadah puasa tahun 1430 hijriyah, salah satu televisi swasta Indonesia, menayangkan program berita dimana dalam berita tersebut disebutkan bahwa Negara tetangga (kembali) meluncurkan klaimnya atas tari Pendet, salah satu tarian asli bangsa Indonesia yang berasal dari daerah Bali. Di situ tampak gambar para penari Negara tetangga yang tengah menarikan tarian Pendet tersebut dengan gaya yang luwes seolah-olah menggambarkan betapa mereka sangat mencintai dan menghayati ‘budaya mereka’. Sakit, perih, marah, kecewa, mungkin hal-hal semacam itulah yang (kami jamin 100%) dirasakan oleh seluruh penduduk Indonesia yang BENAR-BENAR menghayati arti dari sebuah kebudayaan dan rasa nasionalisme. Apalagi, dalam berita tersebut juga ditampilkan pidato para menteri negeri kita yang dengan nada biasa saja kira-kira menyebutkan bahwa wajar saja kalau kita merasa marah dengan semua itu, tapi selama belum ada catatan tentang bukti-bukti bahwa budaya itu adalah milik bangsa Indonesia, maka kita belum bisa melakukan konfirmasi apapun.
Hanya mengelus dada. Mungkin itu yang saat ini penduduk Indonesia lakukan saat mendengar pernyataan tersebut. Mungkin pertanyaan yang pantas diberikan kepada para menteri-menteri itu adalah : HEY BUNG, APAKAH ANDA TAU SEBERAPA BERATNYA PERJUANGAN PARA PAHLAWAN KITA TERDAHULU DALAM MEMPERJUANGKAN NEGERI INI DAN SELURUH KEBUDAYAANNYA?
Yah, kita maklumi saja. Mungkin pada saat itu para menteri-menteri itu sedang galau dan resah juga dalam menghadapi masalah ini, sehingga mereka sebenarnya ingin membuat kita semua tidak perlu khawatir atas masalah itu. Tapi, yang jadi pertanyaan besar pula sekarang apakah itu semua bertujuan untuk menghibur kita atau bertujuan untuk membantu proses panjang mereka menjadi seorang “murtad” dalam berbangsa dan bernegara? Di mana rasa nasionalisme mereka? Di mana rasa marah mereka? Rasa kecewa mereka sebagai seorang warganegara yang baik dan berbakti pada bangsa? Di saat bangsanya tengah resah akan munculnya klaim-klaim konyol atas kebudayaan asli bangsa kita, apakah tindakan mereka sekarang ini sudah benar? Entahlah.
Yang konkrit saat ini adalah, tak sekejap mata pun kita semua melihat usaha pemerintah dalam mempertahankan budaya-budaya tersebut. Kalau menurut para menteri itu dibutuhkan catatan-catatan sebagai bukti kepemilikan kebudayaan-kebudayaan bangsa kita, lalu apakah ketenaran berbagai identitas bangsa kita seperti tempe, batik, reog ponorogo, lagu “Rasa sayange”, angklung ataupun tari pendet di mata dunia belum cukup untuk dijadikan bukti bahwa semua itu jelas sekali milik kita?
Semua orang tau, bahwa tempe merupakan salah satu makanan yang sejak dahulu kala telah menjadi makanan yang dibuat dengan sepenuh hati oleh penduduk asli Indonesia. semua orang juga punya mata untuk melihat bahwa batik merupakan salah satu hasil kebudayaan bangsa kita yang sudah digunakan oleh para anggota kerajaan-kerajaan Indonesia berabad-abad yang lalu dan sebagian besar tarian-tarian yang berasal dari Indonesia menggunakan batik dalam penampilannya. Semua orang juga tau kalau reog ponorogo jelas-jelas hasil kebudayaan masyarakat Jawa Timur. Semua orang juga bisa mendengar bahwa lagu “Rasa Sayange” sudah jelas-jelas berasal dari MALUKU, salah satu daerah di Indonesia. lalu bagaimana dengan angklung? Itu sudah jelas-jelas alat musik yang terbuat dari bambu yang asli berasal dari tanah Sunda, Jawa Barat.
Lalu, dengan penjelasan seperti itu, dan keadaan yang SAYANGNYA berbanding terbalik dengan semua itu, apakah pemerintah masih belum memiliki keyakinan untuk membuat suatu pernyataan mengenai hak paten seluruh kebudayaan bangsa kita, Indonesia? apakah pemerintah terlalu sibuk untuk mengurusi masalah korupsi, pemilu, atau masalah lainnya sehingga tidak memiliki sedikit saja waktu luang untuk bersikap peduli pada kebudayaan-kebudayaan bangsa kita? Bukankah pemerintahan kita sudah memiliki suatu kabinet yang sudah terbagi-bagi dengan sangat jelas dengan tugasnya masing-masing termasuk di dalamnya para pihak yang memiliki tugas dalam mengurus kebudayaan-kebudayaan bangsa kita? Lalu kalau begitu, kenapa tiba-tiba bisa muncul suatu pernyataan yang menyebutkan bahwa tari Pendet merupakan tarian yang dibuat dan berasal dari kebudayaan penduduk asli bangsa lain, bukan penduduk asli Bali, bangsa Indonesia? mungkin sudah waktunya kita sebagai generasi penerus bangsa, mencoba untuk berdiri sendiri dan mendorong serta memotivasi pihak yang bersangkutan untuk menjawab pertanyaan tersebut, atau membiarkan pertanyaan tersebut mengambang begitu saja, dan membuat suatu usaha baru dalam memperjuangkan identitas bangsa kita agar tetap utuh di mata seluruh penjuru bangsa dan dunia, serta membuat Ibu pertiwi kembali tersenyum manis dengan tatapan yang berseri-seri seperti dahulu kala. Mari kita tentukan pilihan kita dari sekarang. Mau terus menyala, meremang, meredup atau mati.

Wednesday, July 1, 2009

here they are..the creative peoples

Pagi hari ini saya awali dengan melakukan perjalanan ke pusat perbelanjaan terdekat untuk membeli beberapa keperluan. saya pergi bersama ayahanda dengan menumpangi angkutan umum. saat saya berangkat ke tempat tersebut, tidak ada yang spesial semua terlihat biasa saja. satu kata..membosankan.

setelah selesai berbelanja, saya dan ayahanda kembali ke rumah dengan menumpangi angkutan umum lagi. nah, kebetulan akngkutan umum itu tidak penuh. ketika kami masuk hanya ada 2 orang di dalamnya. di dalam angkutan saya memperhatikan banyak hal. termasuk didalamnya..coretan coretan tangan yang terdapat di..kursi penumpang. saya tidak kaget melihatnya, hanya heran. betapa kreatifnya mereka yang mencorat coret bangku itu. hmm saking kreatifnya, mereka sampai 'buta tempat' untuk menulis. haha saya hanya bisa tertawa kecil sambil keheranan. dan tak lupa, merasa kasihan.

siapa yang tidak kasihan, bayangkan saja supir angkot itu harus membersihkan tulisan tersebut yg di tulis dengan spidol marker. saya yakin, membersihkannya pun pasti bukanhal yang mudah. kalau tidak bisa dibersihkan? yaa pasti harus diganti. berapa? yang jelas bukan seribu atau duaribu.. pasti lebih mahal dari itu. bisa-bisa, mengalahkan gaji yang diterima..wah wah..

saya heran, saya memang masih kecil..tapi saya heran rasa tenggang rasa orang orang yang mencoret-coret itu sepertinya sudah musnah. mereka tidak lagi berfikir jangka panjang, tidak lagi memikirkan akibat. yang penting 'kreatifitas' mereka tumpah sudah.

setahu saya, masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang punya rasa tenggang rasa yang sangat baik. apa itu semua sudah terhapus oleh waktu? cuma kita sendiri yang bisa menjawab :)

akankah baiknya, untuk para orang tua menanamkan sikap tersebut dan terus di pantau, agar Indonesia menjadi lebih baik lagi

by : Naa

Monday, June 29, 2009

our habit :)

Hi everyone..akhirnya nulis juga hehehe :)

today we will tell you about the weird things on the Indonesian people.
last week, me and my friends went to some place in Jakarta. they are Kota Tua (the old city of Batavia)--included the Fatahillah Museum--, Musium Gajah (elephant museum), aanndd national monument a.k.a. Monas.

kita melakukan perjalanan hari itu dengan menggunakan bus Trans Jakarta rute Blok M-Stasiun Kota. semua itu benar-benar sangat menyenangkan.

belakangan ini, Kota Tua merupakan tempat yang di minati banyak kalangan. salah satunya anak muda atau remaja. di Kota tua, mereka bisa mendapatkan kesan vintage yang bila dipadu padankan dengan kostum mereka yang bergaya vintage kesannya sangat..menarik! :)

di Kota Tua itu sendiri, terdapat sebuah museum bernama Museum Sejarah atau lebih dikenal dengan Museum Fatahillah. isinya? beberapa peninggalan penjajah dari Belanda. saat kami berkunjung ke sana, tidak banyak pengunjungnya. padahal kalau dilihat dari segi biaya, harga tiket masuk tergolong sangat murah. cukup mengeluarkan Rp 1000,- per orang, kita sudah bisa melihat barang-barang bersejarah. hebat kan? hanya dengan 1000 rupiah, kita mendapatkan ilmu yang berharga.

perjalanan kami lanjutkan menuju monumen nasional dan museum gajah yang letaknya bersebrangan. pertama tama kami melangkahkan kaki ke museum gajah. di museum gajah harga tiket masuk yang diberikan lebih fantastik lagi, cukup dengan Rp 750,- per orang, kita bisa sepuasnya mengelilingi museum tersebut. di museum tersebut banyak ditampilkan kekayaan Indonesia. dimulai dari berbagai arca, berbagai peninggalan beberapa dinasti China, sampai kekayaan dari tiap wilayah di Indonesia seperti kain, tengkorak manusia purba, alat musik dan sebagainya. jujur, kami merasa puas di sana. guru kami pernah menjelaskan tentang nekara dan gambar yang ada di buku pelajaran kamu kurang memuaskan rasa penasaran kami. dan di museum tersebutlah kami untuk pertama kali melihat nekara yang sebenarnya. rasa puas kami terpenuhi. namun sayangnya pengunjung tempat tersebut sangat jarang. kami hanya menemui sekumpulan anak-anak yang sepertinya sedang study tour di museum tersebut.

perjalanan kami akhiri dengan naik ke puncak dari Monas. dan melihat matahari terbenam diantara lautan gedung gedung di Jakarta.

sampai di rumah, pertanyaan besar menyelimuti fikiran kami. mengapa di tempat yang sangat mendidik tersebut hanya segelintir orang yang mengunjungi?

ada beberapa hal yang harusnya mebuat orang tertarik mengunjungi Museum
1. biaya masuk yang murah harusnya lebih menarik minat masyarakat untuk mengunjungi tempat-tempat tersebut. apa lagi di zaman krisis seperti ini. museum memang agak membosankan untuk remaja, tapi jika kita nikmati, hal tersebut akan jadi menyenangkan :)

2. tempat-tempat tersebut mendidik. yaa dipikirkan saja, kalau kita tahu sesuatu hal lebih dari yang lain, nilai kita bisa jadi bagus kan :)

nah, selain itu ada beberapa hal yang membuat orang malas menuju ke museum
1. kalau kata anak muda *berasa tuaa --* Forget the Past! masa lalu kan harus dilupakan. buat apa diungkit ungkit lagi. jadi mereka sudah punya setting-an di otak mereka masa lalu harus dilupakan dan gak perlu diungkit-ungkit lagi

2. Museum itu membosankan..tidak ada hiburan! lebih baik yaa ke pusat perbelanjaan.

3. Beberapa anak muda atau remaja beranggapan kalau yang ke museum hanya orang tua dan anak kecil. kalau ada remaja yang ke sana..yaa they are the nerd.

buat remaja, banyakan negatifnya dibandingkan positifnya museum itu.

hmm perkembangan zaman benar-benar merubah pola fikri sebagian besar remaja. buat kami para remaja, yang penting senang dan gak bosan. karena mati kebosanan itu cara mati yang paling gila buat kami. hahaha

sepertinya otak tiap remaja harus dicuci agak bersih kembali. sangat di sayangkan kalau remaja ogah pergi ke tempat sebagus itu. remaja itu kan penerus bangsa! kalau dari sekarang tidak mau sekedar mengunjungi tempat wisata seperti itu, bisa-bisa aset negara kita yaitu barang-barang peninggalan sejarah bisa hilang, lenyap, bisa bisa diambil negara lain lagi :(

kita sebagai remaja sering kali komentar, negara kita begini negara kita begitu...salah satunya komentar mengenai budaya kita. yaa kalau mau semua itu jadi lebih baik..coba kita hargai kekayaan indonesia seperti peninggalan sejarah kalau mau negara tidak dijajah lagi kekayaannya oleh negara lain. dengan yaa salah satu caranya...mengunjungi museum-museum. jadi kita tahu apa saja barang-barang peninggalan sejarah kita. tidak perlu takut untuk di cap sebagai kutu buku! karena mengunjungi tempat tempat seperti museum itu seru! tidak hanya mall yang seru buat kita..buat apa buang-buang sampai ratusan ribu bahkan jutaan rupiah di mall buat hal-hal yang sebetulnya cuma untuk gengsi-gengsian saja. lebih baik cari tempat yang murah meriah dan menyenangkan dan juga bermanfaat :)

change our habbit..from mall to the museum :)